Kamis, Maret 05, 2009

TERLAMBAT [episode 4]

Episode sebelumnya ada disini.
Pengin mbaca dari awal? Silakan klik disini.



Terlihat jelas bahwa ditempat ini, semua sibuk dengan urusannya masing-masing tanpa peduli dengan keadaan disekeliling. Nampak Ajeng duduk bersandar kepala di pundak Ari. Cantiq sekali dia malam ini. Rambutnya hitam lepas tergerai. Wajahnya polos putih berseri. Bibirnya mungil merah alami. Matanya lentik, sayu, menatap kosong kearah langit malam yg kelabu.
Sejenak Ajeng menghela nafas. Panjang. Terlihat jelas, dibalik cantiknya, tersimpan berjuta beban yg begitu menyiksa, yg ingin segera ia hempaskan bersama hembusan nafasnya. Lalu dengan khidmad ia berucap sambil mendongak menatap Ari sendu.

"Aku mencintaimu Mas... sangat mencintaimu. Dan aku rela nglakuin apapun demi kamu, karna sebenernya, sejak pertama aku emang uda jatuh hati sama kamu. Dan rasa cinta itu makin kuat setelah aku tahu semua yg ada di hatimu, lewat surat terakhirmu."

"Surat apa? Aku gak pernah nitipin surat itu buat kamu, sejak setahun yg lalu. Darimana kamu dapetin surat itu?" tanya Ari berusaha mengorek asal surat tersebut.

Ari melepas tangannya dari pinggang Ajeng. Ia biarkan kini Ajeng duduk sendiri.

"Yah... itu emang bukan surat jadi. Dan kayaknya itu cuma coretan yg tanpa direncana. Aku dapetin itu dari Mbak Tien. Dia nemuinnya dikeranjang sampah depan kamarmu. Dia tertarik sama gumpalan kertas itu karna sebuah nama tertulis besar disitu, sedang dia sadar itu adalah nama sahabatnya, aku. Lalu dia memungutnya dan esoknya dia kasih kertas itu ke aku."

Oo...jadi malam itu Mbak Tien yg ngambil, pantes esoknya aku cari gak ketemu," gumam Ari dalam hati, tanpa pedulikan Ajeng yg nungguin reaksinya.

Emang malam itu Ari berniat membuang semua tentang Ajeng, sebab beberapa bulan lagi ia akan mengakhiri masa lajangnya.

"Tapi kenapa baru sekarang kamu terima cintaku?" ucap Ari kemudian, "kenapa nggak sejak dulu kamu bilang itu? Kemana kamu selama ini?
Bayangin...
Tujuh bulan lebih aku mengejar cintamu, tapi kamu gak nunjukin respon sedikitpun. Yg ada justru kamu ngilang dan selalu nghindar stiap aku ke rumah kamu. Hingga aku putus asa dan sempet frustasi karenamu. Padahal sebelum aku mengenalmu, aku gak pernah nglakuin itu. Pantang bagi aku merengek cinta dari s'orang hawa. Mau ya syukur kalo enggak ya udah. Aku masih bisa nyari yg lain yg lebih dari itu.
Tapi tidak ketika aku mengenalmu. Dalam dirimu aku temukan cintaku yg sesungguhnya. Cinta sejati. Sebuah rasa cinta yg belum pernah aku rasain sebelumnya. Rupanya aku udah benar-benar jatuh cinta. Baru sekali itu aku ngerasainnya, setelah lima kali aku mengenal wanita. Dan waktu itu aku bertekad, aku harus bisa dapetin kamu sebelum 14 Februari tiba. Apapun caranya. Meski aku harus sujud menyembah di kakimu aku rela. Tapi apa yg aku dapat?? Tujuh bulan berlalu sudah, dua hari lagi waktunya tiba. 12 Februari, tapi aku belum juga dapat meraihmu. Aku sangat terpukul waktu itu. Aku stres, aku kecewa, aku putus asa. Hingga aku bersumpah di hadapan-Nya bahwa, siapapun yg akan hadir setelah kamu, akan aku sayangi dia dengan sepenuh hati, meski itu hanya dengan segelintir cinta yg masih tersisa sebagai modalnya."

Ari berhenti cerita, dipelupuk matanya kembali terbayang setahun yg lalu. Dimana dengan begitu semangatnya, ia mengejar seorang Ajeng, meski akhirnya juga harus berujung sia-sia dan sempat jadikannya frustasi.

Nampak kini Ajeng sesenggukan tak kuasa lagi menahan rasa penyesalannya. Kini Ari biarkan Ajeng menangis, toh disini juga gak akan ada orang yg peduli. Beberapa menit Ari terdiam, gak peduli. Ada rasa sakit didadanya bila teringat 14 Februari tahun lalu. Namun lama-lama iba juga hatinya ngelihat gadis itu terus-terusan nangis sendirian. Akhirnya dengan penuh kasih, Ari mengusap rambut ikal itu dan menyandarkan kepala Ajeng tepat didepan jantungya. Kini dia umbar air mata itu membasahi separuh kemejanya.
Ari masih mengusap lembut rambutnya saat kemudian terlihat Ajeng sedikit tenang dan berucap semampunya,

"Maafin aku Mas. Aku gak bisa nerima cinta kamu waktu itu, meski akupun sangat mencintai kamu. Ada sesuatu yg membuat aku harus berusaha nghindarin kamu. Tapi itu gak penting, suatu saat pasti kamu akan tahu dengan sendirinya. Yg penting sekarang aku uda tahu semuanya dan aku siap jadi pendampingmu selama-lamanya." seperti mengharap jawaban, dengan mata masih berkaca, Ajeng bangkit dari pelukan Ari lalu menatapnya tajam. Namun Ari tak kuasa membalasnya. Ia alihkan sorot matanya lurus kedepan, tapi entah apa yg terlihat. Ari gak tahu. Pandangannya kini kabur oleh air yg menggenang dengan sendirinya disudut-sudut matanya. Lidahnya kelu gak mampu lagi berkata. Kenapa? Kenapa baru sekarang? Kenapa gak sejak dulu kamu katakan itu?

"Udah terlambat." ucap Ari kemudian sangat lirih.

"Apa Mas...??!" sahut Ajeng tersentak gak percaya.

"Yah...semuanya kini uda terlambat."

Nampak Ari membiarkan air matanya menetes tepat di atas kening Ajeng, sesaat setelah ia rasakan Ajeng kembali ambruk bersandar dalam peluknya.

"Aku udah terlanjur meminangnya dua bulan yg lalu, dan Maret nanti kami menikah." dengan penuh kepasrahan, Ari mengucapnya asal-asalan.

Ajeng kini tertunduk lemas dan membenamkan wajahnya di pangkuan Ari sambil menangis tiada henti....bersambung.#

18 comments:

beat2ws mengatakan...

Suer. Alur ceritanya bisa dibayangkan. Salut sob.

Atca mengatakan...

wahhh...makin penasaran nihh...ditunggu sambungannya dehh

anna fardiana mengatakan...

mut, kapan tamatnya, udah penasaran ni...

sungguh mati aku jadi penasaran... :p

Dhe mengatakan...

komen dulu ahh..
tar baca lagi ^^

DegDegan.duniamaya98 mengatakan...

wah, ternyata aku udah terlambat membaca, sudah episode ke 4 yach...
Duniamaya98

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

sedih..hiks..hiks...seharusnya ari sabar menunggu dong.

Cebong Ipiet mengatakan...

ujung2e yho poto nikahane semut wkakakaakka

namaku wendy mengatakan...

hiahahaha nggeguyu komeng'e cebong
hoaladalah bong kowe ki marai bubrah ae, meh komeng hopo yo mau ki (thinking)

ajeng mengatakan...

Yo, ajeng gak cengeng lho...

rampadan mengatakan...

Wuakakakakkk..
Aku ketawa baca koment nya si cebong..
Oiya bro, ada yg janggal pada kalimat "kayak ngarepin jawaban"
Ini kan novel roumantiiis, mbok ya kata katanya diganti..
"seperti mengharapkan sebuah jawaban" atau "seakan mengharapkan sebuah jawaban"
Gmn?

rampadan mengatakan...

Gue jd terkesan cerewet ya..
Wuakakakakakkk..
Untuk kemajuan novelmu bro..

Kepingan Hati mengatakan...

Hmmm.., ini ceritax ada brapa episode yach..??
Penasaran neh..!!

riosisemut mengatakan...

@kepingan hati :
Ikutin aja terus, Non...

@rampadan :
Makasih bnyk atas kritiknya Mas.
Uda tak revisi tuh.

@ajeng :
Itu cuma ekspresi atas penyesalannya Jeng.
Sbenernya Ajeng tuh anaknya tegar bngt. Liat aja ntar diakhir cerita.

@wendy :
Iyo Wend, Cebong ngrusak suasana thok.

@cebong :
Cebong nguawur e...

@sang cerpenis :
Penantiannya uda diambang batas Fan...

@duniamaya :
Lha kamu sih jarang main.

@dhe :
Iya gak papa Non, asal dibaca beneran lho ya...

@anna :
Ini baru awalnya aja Anna...

@atca :
ditunggu aja Non.

@beat2ws :
Makasih Sob.

Susy Ella mengatakan...

kalo dari judulnya..kayaknya sad ending deh......yaaaaaaaa....

Chalief mengatakan...

Yup....Kaya'nya SAD...hehe...just ngira2...

Maen2 k'Blog Saya ...hehe...

C H A L I E F O R E V E R

riosisemut mengatakan...

@chalief :
Makasih Sob udah mau mampir.

@ella :
Ella sok tahu deh, ikutin aja sampai tamat.

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

ditunggu episode berikutnya nih

www.katobengke.com mengatakan...

met malam ada yang baru tuh di blog aq......simak yah

Posting Komentar

[ Kotak Komentar Klasik ]

Blue link↑↑diatas↑↑, bisa kalian gunakan saat kalian kesulitan koment karena sedang ngeblog via ponsel.

Tinggalkan jejakmu disini Sob..
komentar kalian adalah semangat buat Semut untuk menerbitkan entri berikutnya.