Selasa, April 21, 2009

Ketika Suami Dan Anak Angkat Bicara

Beberapa hari yg lalu Fanny menuliskan sebuah artikel di blognya tentang mengapa wanita bekerja dan aku nanggepin artikel itu dengan cukup serius. Bahwa aku sangat tidak setuju kalo wanita itu harus bekerja. Nah dalam kesempatan kali ini, sehubungan dengan Hari Kartini ini, aku pengin ngejelasin, kenapa aku menulis komentar kayak gitu di artikel dia.
Kenapa aku menentang keras dan gak ngijinin wanita untuk kerja? Oke. Jadi gini,

aku bukannya berniat membatasi ruang gerak wanita atau tidak memberi kebebasan buat wanita untuk mengekspresikan dirinya, nunjukin kemampuannya atau apalah itu namanya. Silahkan. Silakan ekspresikan diri kamu, tunjukin kemampuan kamu. Buat suami kamu bangga melihat apa yg udah kamu lakuin. Tapi menurut aku, alangkah lebih bahagianya lagi hati seorang suami manakala pulang dari kerja mendapati rumahnya rapi bersih dan nyaman untuk ditinggali. Dan itu semua adalah hasil jerih payah sang istri, meski itu juga tidak secara langsung. Ada pembantu misalnya.
Coba bayangin seandainya pas kita pulang dari kerja, capek-capek, lalu disambut dengan kondisi rumah yg sangat tidak nyaman. Kotor, berantakan dan gak sesuai dengan apa yg kita impikan. Pasti ujung-ujungnya akan membuat kita menjadi males pulang ke rumah dan memilih ngeluyur entah kemana.
Alangkah bahagia hati, ketika pulang dari kerja, melihat istri dan anak-anaknya udah rapi, cantiq, diambang pintu menanti papa dan suaminya pulang dari kerja.

Buat para lelaki, coba bayangin kalo seandainya pas kita pulang dari kerja di bukain pintu oleh suster karna sang istri masih diperjalanan dan kemudian masuk rumah melihat anak-anak berserakan bersama mainannya, di ruang keluarga di depan tivi. Nampak sekali mereka tak terurus dan kurang perhatian karena papa mamanya yg sibuk kerja dari pagi sampai sore. Betapa miris hati kita bayangin itu semua.
Atau gini aja, coba kalian bayangin, gimana kalo seandainya pas kita udah dirumah, mau makan malem bersama anak dan istrinya, tapi sang istri malah belum pulang, atau udah pulang tapi pergi lagi karena ngurusin kerjaannya, ketemu koleganya, meeting inilah itulah. Fuih... gimana perasaan kita sebagai suami yg sangat mendambakan kebersamaan itu?
Gimana perasaan kita sebagai seorang anak, melihat Ibu malah sibuk ngurusin bisnisnya dan bukan duduk bersama, makan, ngambilin nasi atau nuangin jus segar buat kita..?

Sungguh, itu semua sangat jauh dari apa yg aku idam-idamkan selama ini, dan ini juga bukan cuma khayalan belaka, ini adalah kenyataan yg pernah aku alami sendiri.
Bapak aku yg sibuk sebagai seorang kotraktor, ngurusin proyek disana, proyek disini, kadang gak tentu kapan pulangnya. Kadang sore dan bahkan juga malem baru nyampai di rumah. Sedangkan Ibu sibuk ngurusin usaha cateringnya, kalo pagi ikutan masak di dapur dan sorenya sibuk ngurusin surat-surat kontrak. Apalagi di akhir bulan, selalu repot nyiapin daftar menu baru untuk bulan depan. Belum lagi ngitung dan mbagiin gaji buat para karyawannya. Sampai pernah suatu ketika aku harus rela hanya bisa sarapan roti bakar dan mencium siku Bunda saja, ketika pamit mau berangkat sekolah, karna telapak tangannya masih belepotan bumbu rendang. Betapa sedihnya hati aku saat itu.

Oleh sebab itu Sobat aku semuanya, salahkah jika akhirnya aku mutusin buat menentang keras seorang wanita / istri kita kerja, ikut mencari tambahan penghasilan buat keluarga? Lalu gimana dengan anak-anak nantinya? Udalah... biarkan suami yg kerja, itu udah tanggung jawab dia. Dan sebagai istri, selesaikanlah tugas kalian ngurusin rumah dan anak-anak.

Oke, buat kalian para lelaki dan calon suami, katakan salah jika semua apa yg aku tulis diatas adalah salah. Tuliskan opini kalian, gimana seharusnya aku bersikap jika suatu ketika sang istri bersikeras minta ijin buat kerja.
Dan buat kalian para wanita dan calon istri semua, ungkapkan pembelaan kalian, kenapa juga kalian musti susah-susah kerja sementara setiap bulan tinggal terima uang belanja dari suaminya.
Atau kalian ada yg pro dengan sikap aku ini. Mengabdikan diri sepenuhnya buat keluarganya yg tercinta?
Monggo silakan tulis opini kalian.

Update :
Selamat Hari Kartini buat para Wanita di seluruh pelosok negri ini.
Jangan kalian salah gunakan kebebasan ini dengan mengabaikan kodratmu sebagai seorang wanita.
Semangat..!!

53 comments:

Itik Bali mengatakan...

Mas, sumpah!! aku bukan wanita type seperti itu kok
walaupun nanti aku bekerja
aku akan rajin, setia, pinter ngurus anak dan suami, memasak, bersih-bersih, ngurusin kebun, nyapu, nimba aer, ngasih makan burung, mandiin kambing
pokoknya wonder ayu woman lah!!

he..he

anna fardiana mengatakan...

hm...mungkin kita punya pendapat yang berbeda. tapi aku menghargai pendapatmu kok muttt...

dulu pas habis nikah, aku juga sempat berhenti kerja..tapiakhirnya aku kerja lagi. justru suamiku yang mendorong aku untuk kerja. dia gak tega liat aku diem aja di rumah.

tapi kami punya komitmen dan saling mengerti... jadi kalo rumah agak berantakan, kami berdua kerja sama untuk membereskan. begitu... :)

tergantung masing2 pasangan Mutt....

ajeng mengatakan...

Hormat grak untuk pendapatnya mas,tp setiap kita punya alasan sendiri untuk apa yg telah kita pilih. Tapi semua tergantung pribadinya juga. Ibu saya juga bekerja,tapi Alhamdulillah kami tidak terlantar. Banyak juga keluarga yg ibunya tidak bekerja tp terlantar..

Ivan@mobii mengatakan...

Wah,aku jg menjalani masa kecil yg kurang lbh sama dgn bang rio. Orang tua sibuk dgn kerjaan masing". Hidup mag da pengorbanan... Ortu berkorban buat aku dan aku pun membalasnya dgn tdk menuntut mereka menjadi yg ku mau..

Conthnya aja dah 2 hr gak ketemu mamaku padahal satu rumah. Sibuk,sibuk dan sibuk...

Cebong Ipiet mengatakan...

kalau dirinya bilang gini

kerja aja nggak apa, ntar kalau aku mati,umur kan ga ada yg tau, kamu dan anak anak nanti siapa yang ngasih nafkah, lebih baik kan disiapin dari sekarang

ini tentang mempertahankan hidup

Cebong Ipiet mengatakan...

kerja bukan brati melupakan keluarga, saat ini kerja kantoran mumpung belum nikah, ngumpulin modal,nanti nya tentu saja banyak planning mempunyai usaha sendiri di rumah, sambil ngurus anak, uhuy

Cebong Ipiet mengatakan...

satu lagi deh

Gimana perasaan kita sebagai seorang anak, melihat Ibu malah sibuk ngurusin bisnisnya dan bukan duduk bersama, makan, ngambilin nasi atau nuangin jus segar buat kita..?
---------------------------------
Gimana perasaan seorang ibu yang ngelihat anaknya kelaparan karena ga ada nasi yang di makan, jangankan jus, air putih aja ga ada?

t.e.3.k.4 mengatakan...

*berkaca2* hmmm

BIG SUGENG mengatakan...

Wahai lelaki yang belum nikah, seandainya engkau berfikir bahwa setelah menikah engkau tidak perlu mencuci baju (karena istri nanti yang nyuciin) itu salah, yang benar adalah kalau dulu engkau mencuci satu ember, maka setelah nikah engkau mencuci 2 ember. Jika engkau berfikir nanti dipijitin sama istri, itu juga salah karena bukan engkau yang dipijit tapi engkau yang harus memijit. Jika engkau berfikir bahwa setelah punya istri pasti dimasakin itu juga lagi-lagi salah, yang benar engkau harus memasak untuk keluargamu

riosisemut mengatakan...

@big sugeng :
Begitu ya Om?
Masa sih Om, kalo kita menolak gimana?

@t.e.3.k.a :
Jangan nangis disini Tik.

@cebong :
Iya Bong km ada benernya juga, maaf, aku gak ngliat juga dari sisi yg itu. Aku hanya berkaca pada diri aku sendiri,
Dasar egois.

@ivan :
Sabar aja Van, ini semua adalah untuk kebahagiaan kita.

@ajeng :
Iya Jeng, aku juga salut sama Ibu yg mampu bekerja dan juga ngurusin anak kek gitu.

@anna :
Iya Mbak Anna, awalnya emang mereka punya dan memegang teguh komitmen itu, tp pada akhirnya seiring dng kemajuan usahanya, komitmen itu lambat laun terlupakan.

@itik bali :
Iya Itik...
Semut percaya koq, km emang wonder ayu women, hahaha....

BIG SUGENG mengatakan...

Wah diskusinya rame yaa...., saya ikut nimbrung biar semut semutnya bubar soalnya keinjak-injak.
Dua pemikiran itu masing-masing ada sisi kurang ada sisi lebih,
Sisi lebih istri bekerja, dari sisi ekonomi bisa lebih membantu keluarga agar lebih mandiri (misal cicilan rumah suami yang nanggung, cicilan mobil istri yang nanggung sisasanya yaa untuk bareng-bareng), bisa mengaktualisasi diri, bisa mengembangkan kemampuan dan dari sisi darurat (misal suami meninggal, cerai dll- yang ini jangan diniatkan dari awal sebelum bekerja yaa...) mau nggak mau wanita harus bekerja/memperoleh penghasilan untuk menyambung hidup keluarga.
Sisi kurang istri bekerja, mau nggak mau anggota keluarga ikut kena dampaknya ( harus ikut memahami dan berkorban) terutama adalah anak dan anak mertua. Belum lagi kalau jam kerja di kantor tersebut sangat ketat dan kondisi tempat tinggal yang jauh dari kantor. Dalam kondisi tertentu mau nggak mau anak mesti hidup dengan pembantu atau dititipkan sama Simbahnya. Kondisi yang lain jika pembantu keluar (tidak betah, nikah atau nyari gaji yang lebih besar), atau anak sakit. Hal hal seperti itu adalah resiko yang perlu ditanggung oleh seluruh anggota keluarga.

Sisi lebih istri tidak bekerja dia akan lebih fokus mendidik anak, mengurus rumah tangga

Sisi kurang istri tidak bekerja adalah dari sisi ekonomi, pengembangan kemampuan, aktualisasi diri (walaupun ini tidak mutlak karena pengembangan kemampuan dan aktualisasi tidak harus wanita keluar rumah)

Kalau saya sendiri karena pertimbangan jam kerja saya sampai jam 5 maka sejak menikah istri saya tidak bekerja (istri saya tamatan IKIP Jakarta) tetapi lebih fokus ke keluarga. Untuk aktualisasi diri istri saya aktif di pengajian /partai PKS, serta dilingkungan aktif di dasa wisma dan pengurus masjid (ini sangat membantu sosialisai keluarga saya di lingkungan karena saya di rumah kan cuma sabtu minggu)

Kesimpulan
ada plus minusnya setiap pilihan, semua pilihan mesti dimusyawarahkan dengan suami/istri termasuk untuk memutuskan bekerja/tidak bekerja/punya usaha atau untuk meninjau ulang keputusan yang telah diambil karena ada kondisi tertentu.

Untuk ibu2 yang bekerja saya sarankan bila punya anak masukkan anak tersebut ke sekolah yang full day misalnya untuk yang muslim ada Kelompok bermain/TKIT, SDIT ( IT= Islam Terpadu; bukan promosi, tapi saya telah mengamati dan merasakan manfaatnya, anak saya sekolahnya kan ada yang di TKIT, SDIT, SMPIT dan SMAIT) karena ketika berangkat kerja bisa sama-sama pulangnya juga bisa sama-sama, krn makanan (kita bisa membawakan) dan kegiatan pasti lebih bagus.

Untuk temen yang di Jogja kalau mau nanya sekolah/TK IT nanti bisa kontak saya

mommy adit mengatakan...

Saya setuju sama Mas Big Sugeng. Lebih bijaksana dalam berkata-kata. Melihat sesuatu bukan hanya dari satu sisi saja. Mungkin karena sudah berkeluarga ya, jadi mengerti bagaimana kehidupan berumah tangga.

Saya adalah ibu bekerja dan baru menikah selama 3 tahun. Sebetulnya saya ingin sekali tinggal di rumah, tp keadaan berkata lain. Kami (saya dan suami) harus menguatkan ekonomi bersama-sama agar kami punya tempat berlindung dan penghidupan yang baik. Saya dan suami bekerja bersama2 dalam segala hal. Baik urusan keuangan maupun domestik rumah tangga. Suami tidak segan untuk membantu mencuci baju atau menyapu sementara saya memasak atau menyuapi si kecil. Atau ketika saya harus mencuci piring, suami yg memandikan si kecil. Pokoknya kita bekerja sama dalam segala hal.

Saya ingin nanti anak saya tidak mengalami hal seperti semut. Mudah2an ketika dia mulai sekolah nanti, saya bisa di rumah.

joe mengatakan...

suami bekerja itu adalah wajib, bagaimanapun suami adalah kepala rumah tangga, sedangkan bila istri ikut bekerja itu tidak wajib, itu hanya sodaqoh dari istri, karena ikut meringankan beban suami

Atca mengatakan...

Setuju dengan mommy adit.
tambahan lagi nihhh...kalau buatku sih bekerja tidak harus dikantor...dengan berbisnis, menjadi penulis atau dari memasakpun merupakan pekerjaan...bahkan menurutku dari segi waktu dan pendapatan jauh lebih fleksible dari kerja kantoran..
So..ngga perlu mengorbankan waktu keluarga.

beat2ws mengatakan...

Waduh mas, emang bicara dapat diangkat ya???
hehe *kaaaaaaaaaaaabbbbbbbbuuuuuuuuuuuuuuuurrrrrrrrrrr*

vie_three mengatakan...

seenggak-enggaknya selain berkerja pasti para wanita akan berusaha untuk menjadi yang terbaik bagi keluarganya..... aq kurang setujuuuuu ntu....

attayaya mengatakan...

atca tuh betul ,kerja ga perlu ngantor, lhaaaa karena atca punya bisnis di rumah sih

nietha mengatakan...

gw malah impiannya pengen jadi wanita karir, ibu teladan dan istri pilihan..
kayaknya semua itu bisa terwujud dengan dorongan dan bantuan suami serta keluarga. Tergantung cara membagi waktu aja.

fanny mengatakan...

wah, rame tenan nih. ya...apapun pendapatmu, Semut. semua ada benarnya kok. tapi juga gak 100 persen benar. aku lebih setuju sama pak Sugeng. Bijak sekali dia. he he he....

Tukang komen mengatakan...

Working on your business... don't work in your business... (welah.. pake bahasa dewa)

sibaho mengatakan...

pisahkan antara sistem dan orang. hasil yang kurang baik belum tentu karena sistem yang tidak baik. orang yang salah menjalankan sistem bisa berakibat hasil yang jelek. kalau saya lihat kasus di atas, ketidakkonsistenan orang pada sistem/aturan main yang dibuat di awal, adalah pangkal permasalahannya.
Oke. bagaimana kalau tidak ada sistemnya? ya buat dong!
Kesimpulan: jangan men-generalisir suatu kasus :)

out of the box : sungguh tersiksa seorang istri yang seharian hanya baca majalah, nonton tivi, ngerumpi, dll. apalagi berpendidikan tinggi. duh, apa kata dunia?

awan_clickerz mengatakan...

salah besar jika seorang wanita, benar2 100 persen dilarang bekerja,
jika kebutuhan keluarga sebulan memrlukan anggaran 1 juta, maka sisuami hanya berkewajiban 800 nya saja, sisanya istri membantu, jika suami kurang dari 800rb, itungannya ngutang.

bekerja bukan berarti melupakan kodratnya sebagai seorang ibu rumah tangga, hanya saja sebagian memang begitu. melarut dalam rutinitas kerja; dan keluarga lah yg akhirnya dikesampingkan.

oke...just share.....siiiiiiiiiip dah

Yup !

riosisemut mengatakan...

@awan, tukangkomen, sibaho, fanny :
Trimakasih atas sharenya Sob, semua koment dari kalian akan aku ambil sisi baiknya. Semoga itu semua bisa mengantarkan rumah-tanggaku ke jenjang yg lbh sempurna lagi.

@nietha :
Wuah., aku rasa itu akan sulit Mbak, tp smua emang tergantung masing2 person.

@attayaya :
Iki malah ngomentari komentare kancane.

@vie_three :
Gak setuju sama yg mana nih Fit?

@beat2ws :
Hahaha... buat km no reply aja deh.

@atca :
Iya gak papa Mbak, asal jangan kebablasan aja. Ntar kalo udah sukses, lupa komitment awal.

@joo :
Yup aku setuju dng pendapatmu Joo...

SPECIAL THANK'S BUAT MAMANYA ADIT DAN OM SUGENG.
Semua share dari anda berdua, sangat bermanfaat buat aku dan semoga bisa membantu membangun rumah tanggaku ini menjadi keluarga yg sakinah, mawadah dan warohmah. Amin.

Semua ini jaz share, dan aku sama sekali gak prnh menyalahkan pendapat dari siapapun.

THANK'S FOR ALL.

neilhoja mengatakan...

waah... mut, selamt ya, dah mo nikah nih!!

kekekeke.... gak jelas ndiri nih, komentarnya.. [lagi panas2nya mo ujian, OOT mode: on]

cuman salut ama om sugeng, keknya beliau ini udah nikah ya... disharing dong om... pengalamannya... :hammer:

bener juga tuh, kata joe: suami kerja itu wajib sementara istri bekerja itu sunnah, alias sodaqoh...

Henny Y.Caprestya mengatakan...

hm,,sejujurnya aku lebih suka kalo bisa saling memahami, suami jangan maunya semua istri yang urus, istri juga jangan sampe ngelupain keluarga. kalo suami bilang kerja itu capek, ngurus anak dan rumah juga capek. jadi biar adil, jalanin aja semuanya sama-sama. tapi sekali lagi tetep, kalo habis pulang kerja, istri bikinin kopi buat suami yang juga baru pulang kerja.

gimana?? setuju nggak??

buwel mengatakan...

Komentarnya sama kayak waktu ngomentarin artikel terbarunya Mbak Fanny:
LILLAHI TA'ALA.......

rampadan mengatakan...

Wuakakakakakkk.
Aku gak ikut jajak pendapat, ngikut baca baca koment aja.
Lucu2.
MenurutQ, mending wanita kerja aja, mumpung belum punya momongan.
Pengennya emang suami aja yg kerja, tp kan kita punya planing juga. Siapa tau dg kerja sama sama, ngumpulin modal lbh cpt, terus buka usaha mandiri, gt.
Baru bikin anak.
Mau baca2 koment lg ach.
Aku gak ikut poling lo.

yanuar catur rastafara mengatakan...

wanita harus pintar dan rajin menabung
heheehehehe

merisa mengatakan...

gw sebagai cewek jujur aja pengen kerja, tapi gw pengennya kerja yang di rumah aja, ato kerja mandiri yang masih bisa ngajk anak gw entar.. pokoknya kerja sesuka hati gw lah..

gw sendiri kayaknya korban dari ibu gw yang kerja. Walaupun gw udah gede dan bisa ngapa2in sendiri, tapi gw kadang suka minta kayak pas kecil dulu lagi disayang2 sama ortu.. Ibu gw ngedidik gw buat mandiri dari gw masih kecil, terlalu cepat mandiri juga gak enak.. gw akhir2 ini suka kepikiran, kapan ibu gw terakhir kali meluk gw.. T.T

Ayas Tasli Wiguna mengatakan...

Salam kenal Mbak. Enaknya berkunjung ke blog keren.

Bukannya mengurus anak dan sjenisnya adalah kodrat wanita, selagi dinikmati kan akan jadi ibadah,, mungkin hehe..

yang jelas suaminya juga kayaknya harus pengertian deh.

Overall, aku jadi inget susahnya pekerjaan mama.
Hiks..hiks.. (usap air mata)

Echi mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Echi mengatakan...

wuiiih udah rame disini :)

wanita bekerja kalo untuk memenuhi kebutuhan bersama keluarga yang memang tidak terpenuhi saya pikir sah-sah saja selama ikhlas & ridho dilakukan sang istri, tentu dengan konsekwensi2 yang harus diterima misalnya anak-anak yg berkurang waktu berinteraksi dgn bundanya atau istri yang ga bisa ready 24 jam ketika suami membutuhkannya. Tapi bukan berarti wanita bekerja jadi punya alat untuk "cuci tangan" ketika urusan rumah tangga ga beres loh yah dan buat para suami yang tau istrinya bekerja untuk membantu memenuhi kewajibannya dimohon pengertiannya juga kalo rumah agak berantakan atau ibunya anak-anak terpaksa pulang agak larut, toh ini bukan kehendaknya tapi karena terpaksa ikut memenuhi kewajiban anda ..

Menurut pendapat saya sepintar-pintarnya seorang wanita bekerja membagi waktu, tetap akan menyita waktu untuk keluarga jadi saya mengerti maksud Rio menginginkan istrinya tidak bekerja untuk total menjadi ratu rumah tangga karena mungkin Rio ingin istrinya selalu ada ketika suami dan anak-anaknya memerlukan keberadaannya. Tentu saja konsekwensinya Rio HARUS MEMENUHI KEBUTUHAN FINANCIAL KELUARGA DENGAN BAIK..

Untuk wanita yang bekerja di rumah saya rasa itu pilihan yang baik sebagai sarana aktualisasi diri dan prepare kalo sewaktu-waktu suami kita meninggal dunia, tapi saya pikir sebagai umat beragama kita ga perlu terlalu risau dg situasi ini.. Tuhan ga pernah tidur, pasti akan selalu ada membantu para janda dan anak yatim. Apalagi buat suami dan ayah sejenis Rio, semestinya sudah mempersiapkan diri dg baik untuk kemungkinan ini, ikut asuransi misalnya karena memang mungkin besok lusa Tuhan menjemput kita :)

Sebagai seorang wanita, siapa siyh yang ga ingin jadi ratu rumah tangga, mengurus anak-anak dan suami dengan kebutuhan lahir & batin terpenuhi dan masa depan baik yang terjamin dengan kepastian penuh.
Kalo udah ada di posisi ini perempuan tetep ngotot untuk mengaktualisasikan diri saya sarankan buka lagi Al-Qur'an dan Hadist sebagai pedoman kita sebagai muslimah bertindak. Menjadi blogger saya pikir sudah lebih dari cukup buat mengaktualisasikan diri dan menyalurkan ilmu yang kita raih dengan susah payah, bukan kah kita menuntut ilmu bukan untuk menhitung untung rugi tetapi untuk mensyukuri anugerah Tuhan dan melaksanakan perintah-NYA kan? dan saya pikir Anak-anak yang diasuh + di didik seorang wanita lulusan S1, S2, atau bahkan S3 akan lebih berkualitas daripada dalam asuhan dan didikan seorang baby sitter ???

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

topik yg menarik. sampai seramai ini. he he he....ayo bikin artikel lain lagi yg tak kalah menarik, mut.

brown sugar mengatakan...

Sudah banyak yang komentar gitu Rio....
Saya mo duduk aja sambil baca baca....( kali aja diangkat jadi pengamat....ngamati semut keinjek injek dimari )

Edo dot Com mengatakan...

wah ketinggalan cerita nih..udah rame gini..

btw,aku belum menikah, tapi menurutku pribadi, aku ga akan ngelarang-larang istri kalau mau bekerja,karena itu hak dia, tapi...ada tapinya, jangan lupakan kerluarga, kerana itu kewajiban.

kiranya segitu ajah..
wasalam

wh mengatakan...

menempatkan sesuatu pada tempatnya......rencana dan tujuan memang harus ada tp semua itu harus disikapi dengan bijak serta kondisinya

Salut buat pendapat Om Sugeng

Weh kayaknya komen2 bisa dijadiin satu artikel....

Putridevi mengatakan...

Hahaha... Semut dibahas lg yg ini... Hehehe... Bayangin y, suatu hari, waktu di kampus, lg kuliah s2 di ptn ternama di jakarta *lebay* menggantungkan mimpi menjadi seorang mujahidah ekonomi syariah *riawan amin mode: on* eh... Si dia mengajukan syarat kya gni... Ya... Pertanyaan'a, ijazah s2 mo di buang kmana mas?! Nyari'a past halft dead!! Hahaha.... *sory yah mut, jd flash back* :p

foo mengatakan...

hhhmmmm......
gmana kalo kita diskusi sama sang istri untuk mengambil jalan tengahnya.....

riosisemut mengatakan...

@foo :
Boleh juga, tp kputusan tetap harus ada di tangan suami.

@putridevi :
Oke deh Dev..
Aku tau, emang berat perjuangan buat dapetin S2 itu, silakan aja presentasikan itu sesuai dng bidang masing2 asal...
Asal jng lupakan kodrat km sbg istri dan jg seorang istri.
THANK'S BUAT OPININYA.

@wh :
Makasih sharenya Sob.

@edo :
Km salah Do..!
Kalo udah jd seorang istri, segala apa yg hendak dilakukannya, hrs dng persetujuan suami trmasuk keinginannya kerja.
Itu bkn hak dia lagi.

@browsugar :
Silakan Tante tp awas jng ikutan nginjek Semutnya.

@fanny :
Oke deh Fan, ditunggu aja.

@echi :
Thank's bngt Teh buat share pendapatnya.
Pendapat Teteh sangat berguna buat kemajuan rumah tanggaku.

@ayas :
Wuaduh Ayas...
Pliss... jng panggil aku Mbak, aku gak pantas dipanggil itu bahkan Ibupun msh blm ngijinin aku make' jilbab, karena apa??

Karena aku ini LAKI-LAKI tuleeeen..!!!

@merrisa :
Salut..! Hampir sama kyk aku nasibnya.

@yanuar :
Jaka Sembung makan sop.

Gak nyambung Sob..!!

@rampadan :
Oke deh Dan, gak papa, asal jng lupa, arahin sang istri biar gak lupa sama kodratnya. Ngurusin anak2.

@buwel :
Makasih Sob.

@henny :
Wuaduuuuh, maaf Hen, aku gak setuju sama yg kyk gini, prinsip aku tetep,
Suami yg kerja, istri yg ngurusin rumah dan anak2.

@neilhoja :
Oke deh met jalanin ujian aja, thanks atas partisipasinya.

BUAT SEMUANYA MAKASIH BNGT ATAS PARTISIPASINYA.

Itik Bali mengatakan...

Mas Rio aku balik lagi ke sini,
tadi aku lihat postingan terbaru dari Mas Rio
dan baca footernya kalo mas Rio masih butuh pendapat soal ini..
sekarang aku serius nih ngomongnya *ekspresi mengkerutkan dahi, sebelum berangkat sekolah*

Aku gak berpendapat sebagai wanita yang bekerja
karena aku belum kerja, menikah dan punya anak
Tapi dari sudut pandang anak yang melihat ibunya bekerja..

Sebagai anak, aku merasa bangga melihat ibuku bekerja (aku gak menyebutnya sebagai wanita karier, karena kesannya kok ke langit bangets)
Banyak temen-temenku yang pengin kaya aku, punya ibu yang bekerja, selalu rapi dan pinter
saat ditanya soal komputer ibuku lebih jago dari aku
saat ditanya soal pelajaran ibuku lebih jago dari aku
saat ditanya soal sosial politik dll ibuku lebih jago
aku banyak belajar dari ibuku
itu karena ibuku bekerja dan itu yang membuat ibuku terus belajar

Aku, adik dan ayah bahkan pernah ditinggal ibuku bekerja di luar pulau selama lebih dari 2 tahun
frekuensi ketemu hanya sebulan sekali
tapi aku bangga mas sama ibuku
Aku merasa tak banyak wanita yang punya kesempatan belajar seperti ibuku
dan itu yang membuat aku terus terdorong untuk belajar menjadi lebih baik
wong ibuku yang sudah tua aja punya semangat kaya gitu kok aku yang muda kalah

sedang ayahku??
aku sendiri gak terlalu ngerti tentang perasaan dan pandangannya
tapi aku melihat bahwa ayahku fine2 aja
ayahku juga bangga terhadap ibu
ayahku respek terhadap ibu
karena sewibawa2nya ibu diluar rumah (dikantor dsb)
Ibu masih tetap hormat pada ayah dengan membuatkan kopi, sarapan dsb
Ibu masih setia dan mencintai ayah

eh,..aku terlalu panjang ya pendapatnya
itu menurut aku mas..
penilaian yang sangat subyektif

crazy lil outspoken girl mengatakan...

aduh rio..kyknya gw dah telat bgt ni komen...hehe
menurt gw...istri sangat berhak utk bekerja,bukan hanya ketika sang suami blm mapan..tp klo suaminya sudah mapan dia msh berhak utk bekerja..
gw bingung deh knp si kodrat wanita itu selalu disamakan dg nyapu,ngepel,ngurus anak...helloooohhh...itu jg tugas suami kali..
justru dg sm2 kerja,sm2 ngurus anak,sm2 ngurus rmh jadinya sm2 capek dan justru jd sm2 tw kecapekan msg2

Etha mengatakan...

semua orang boleh punya pendapat beda-beda
klo menurut etha boleh aja istri bekerja, asalkan dia masih bisa pegeng tanggung jawabnya sama keluarga, sekarang tuh jaman susah, masa kita wanita cuman duduk aja, klo bisa bantu apa salahnya ^-^


*hadoohhh...ga percaya etha bisa ngomong kek yg diatas*

♥ Neng Aia ♥ mengatakan...

ada kalanya memang suami lebih menghargai jika istrinya sebagai wanita untuk tidak sibuk bekerja, melainkan lebih setuju untuk menjadi ibu rumah tangga saja. mengapa? karena sang suami ingin istrinya untuk lebih fokus mengurus RT, anak, dan tentunya si suami. karena suami tidak ingin istrinya memiliki pikiran yang terpecah belah antara RT dan pekerjaan, sehinggasemua urusan terbengkalai.

ada juga suami tidak ingin istrinya bekerja karena menurutnya ia (suami) masih mampu untuk mencari nafkah.

itu sah-sah saja menurut saya. saya mah lebih senang membantu suami dengan bekerja, kalaupun suami saya nantinya ingin saya tinggal dirumah, ya apa mau dikata? bukannya istri harus manut pada suami? karena membantah suami katanya dosa.

begitulah..

dwina mengatakan...

Mut aku tau aku ketinggalan banget nih komenya. pengenya sih komen postingan terbaru tapi kok ya hatiku berontak pengen nulis disini.

mut ini pengalaman pribadi. aku juga sebenernya kurang setuju kalo cewek/ibu bekerja tapi mungkin karena masalah ekonomi atau suami yang males kerja jadi istri kudu turun tangan menyelamatkan ekonomi keluarga dan itu terjadi ama aku. ibuku nyari nafkah selama jadi istri dari ayahku. 5 anak ibuku dan kelima5nya di biayai ama ibu. mulai dari sekolah ampe makan dan jajan nya. trus kamu pasti nanya ayahku kemana?
ayahku kerja juga tapi serampangan kalo ada y kerja kalo nggak y dirumah aja. bayangin mutt kalo kamu jadi aku. tapi
Alhamdulillah walau ibu kerja dari matahari belom nongol ampe matahari udah bobok duluan aku masih sempet nyium tangannya.
maka aku rasa wajar jika sekarang aku yang ganti posisi ibu nyari duit buat nanggung keluarga. meski ibuku masih lagi kerja tapi udah berkurang mungkin karena udah tua. dan aku serta adikku yang gantiin.
trus kamu pasti nanya lagi ayahku kemana?
setelah aku gede dan bisa nyari duit sendiri dan
bisa sedikiiiitt ngurangin beban ibu. ayah malah nikah lagi. padahal kerjanya masih kayak dulu. serampangan. oke gimana menurut kamu mut?????
maaf aku jadi curhat disini. entah kenapa mungkin karena suasana hati masih 80 persen sembuh jadi jari ini bicara seenaknya. maaf mut.
kalo mo bales ke dwinaquarius@gmail.com

J O N K mengatakan...

wah gimana ya kalau ngizinin istri kerja. tapi kalau kira-kira semuanya dah bisa teratasi mendingan jangan dulu deh mas, kasih pengertian aja dulu kali ya, bahwa mas rio juga sudah cukup kuat untuk menanggung beban hidup

hehehe, maaf kalau nda nyambung :D

usman mengatakan...

mas semut (semut ireng apa merah ya????) aku sangat setuju dengan sampeyan, wanita tu bagaikan intan permata dan berlian, jadi harus disimpan baik2, dirawat dan dijaga. bukan malah ngeloyor cari uang. tugas cari uang itu adalah laki2, betul nggak????

usmancute mengatakan...

untuk dwina, sebenarnya tulisan semut tadi ditujukan buat orang2 yang bertanggung jawab, baik laki2 maupun perempuan, jadi bagi orang yang tidak bertanggung jawab, itu adalah pengecualian. namanya orang kurang ajar. jadi yang disampaikan mas semut tu adalah dari ajaran agama yang sebenarnya tu gimana. jadi gak usah panas2an, toh wanita sebenarnya boleh kerja, tapi atas ijin suaminya. oke........

Susy Ella mengatakan...

kalo ella.....kelak jika menikah...mau tetap kerja...apalagi alhamdulillah ella pns...waaahh bisa dikutuk semua orang kalo gw mundur..lagian i have a lot of dream.
namanya pasangan, semua itu tergantung dari pengertian masing2....dia punya mimpi, ella pun punya...dia punya ruang sendiri, ella pun punya....yg penting bagaimana kita bisa mensinkronkan itu semua.

lagian muuut...ella anak tunggal...kalo sekarang emang ortu ella masih mampu usaha sendiri, tp jika kelak dah ga mampu lagi....ella donk yg ngurus, yg biayain mereka...masak musti minta ke suami terus...ella pengen nabung biar bisa naik hajiin mereka..dari keringat ella sendiri....

ini bukan soal keegoisan seorang wanita...tp tentang mimpi....

awan_clickerz mengatakan...

ah aku baca ulang lagi nih artikel..
sapa tau aku masuk daftar tunggu.playlist..
hehee..
maaf sobat, nyepam ya..
Intinya: HIDUP HARUS SERBA SEIMBANG, SEIMNAG TIDAK HARUS SAMA BANYAK, SESUAI PORSINYA. ITU AJARAN AGAMA....


Yup !

bunda mengatakan...

Semutttt...maafkan bunda ya..telat berkomentar disini :
saya bersama kakak dan adik2 sejak kecil terbiasa melihat ayah dan ibu bekerja. jadi kami sejak kecil terbiasa mendapat tugas sesuai dengan kemampuan sebagai anak-anak. dan itu berlangsung sampai kami kuliah. ayah yang sering bepergian ke berbagai negara juga ibu membuat kami anak-anaknya terbiasa mandiri. bahkan tak pernah punya pembantu. Jadi baik anak laki-laki dan perempuan semua bisa mengerjakan pekerjaan rumahtangga : masak, nyuci, setrika pakaian dan lain-lain. Bagi bunda pekerjaan domestik bukan hanya tugas ibu tapi juga tugas bapak. pengasuhan anak tidak semata-mata tugas ibu, juga menjadi tugas bapak meski dalam kadar yang berbeda. pembagian pekerjaan domestik dan diluar rumah adalah sebuah kompromi yg dilakukan suami-isteri dan disepakati bersama. ayah saya saja sehari-hari bantu ibu nyuci piring atau menyuci pakaian lho. saya sendiri alhamdulillah sudah 24 thn berumahtangga dan tetap bekerja. saat anak2 masih kecil, saya bekerja paruh waktu dan anak-anak bisa saya ajak ke kantor agar mereka mengerti bahwa ibunya bekerja. Yang penting bukan kuantitas waktu namun kualitas waktu yang bisa dimanfaatkan bersama-sama. dan setiap saat bisa berubah sesuai dengan perkembangan usia anak-anak.
sejauh ini kondisi tetap baik-baik saja. Apalagi sekarang media komunikasi sudah lebih mudah. Telpon dan HP bisa dijadikan alat komunikasi utk semua anggota keluarga. Saat harus ke luar kota utk pekerjaan, toh ada ayahnya yg juga bisa menjaga anak2. Take and give gitu deh. kalau ambil rapot juga gantian dgn bapaknya.
menyediakan makanan sih so pasti pagi2 sudah tersedia sarapan dan bekal. Karena sejak remaja pun saya cukup lama tinggal di asrama putri, dan terbiasa dgn tugas2 domestik di asrama. alhamdulillah anak-anak tidak protes saat harus ditinggal. sebab sebelum bepergian, saya sudah prepare semua kebutuhan suami dan anak2 dlm bbrp hari saat saya tinggal pergi..
suami pun mendukung saya yg bekerja, sebab di keluarganya juga terbiasa lihat ayah dan ibunya bekerja. So mas Semut.. tampaknya setiap pengalaman kita berbeda-beda ya.
semoga bermanfaat
salam bunda

suwung mengatakan...

ikut dukung semut

Neng Rara mengatakan...

Ass.wrwb
mohon maaf mut, sy terlambat datang. membaca undangan mut di blogku untuk menulis tema "istri yg bekerja". Memang cukup berat ketika istri harus bekerja meninggalkan tugas pokoknya dalam rumah tangga, mengasuh anak dan melayani suami. Tetapi sy memang terlanjur sudah sering bekerja di rumah, dan tentu atas ijin suami. Ditambah lokasi kerja saya dengan suami dan anak cukup jauh, kami bertemu setiap minggu. Saya pikir saya harus belajar dari kehidupan teman-teman di atas, dan kehidupan saya sekarang. Apakah memang harus terus berpisah dan bertemu seminggu sekali? tapi selama ini kami menikmatinya sebagai sebuah perjalanan hidup yang memang suatu saat harus di rubah.
trims atas postingannya. menarik sekali.
wassalam

awan_clickerz mengatakan...

sembilan paragraf yang saling menyatu,
berbicara wanita, selalu membuat ku mengebu ngebu

Posting Komentar

[ Kotak Komentar Klasik ]

Blue link↑↑diatas↑↑, bisa kalian gunakan saat kalian kesulitan koment karena sedang ngeblog via ponsel.

Tinggalkan jejakmu disini Sob..
komentar kalian adalah semangat buat Semut untuk menerbitkan entri berikutnya.